Hendra Gunawan

Hanya ingin dikenal dunia….

Menengok Kerajinan Pahat Batu di Muntilan (1)

Posted by Hendra Gunawan on August 21, 2008

Menengok Kerajinan Pahat Batu di Muntilan (1)

 

Pusat kerajinan pahat batu (patung batu) di Dusun Batikan, Desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Megalang, sudah dikenal di sejumlah negara. Namun sayang, industri ini belum banyak mendapat sentuhan teknologi. Perhatian serta dukungan pemerintah pun masih minim. Padahal, ada ratusan orang menggantungkan hidupnya dari kerajinan ini. Wartawan Suara Merdeka, I Nengah Segara Seni, mencoba “memahat” potensi dan kendala di pusat kerajinan itu, dalam tulisan berseri.

 

MEMASUKI sebuah kawasan di pinggir Jalan Raya Magelang-Yogyakarta, tatap mata kita sulit menghindar dari deretan patung batu. Baik yang berbentuk aneka jenis hewan, manusia, pewayangan, tokoh-tokoh dalam cerita rakyat, sampai alat dapur seperti cobek dan munthu.

 

Dusun Batikan, begitulah nama kawasan tempat para perajin batu itu berkreasi, mengingatkan kita pada suasana di Ubud Bali. Hanya saja paras atau bahan dasar pembuatan patung di Batikan jauh lebih keras daripada paras Bali. Begitu keras sehingga hampir serupa dengan batu.

 

Cuaca di Mungkid saat itu memang panas. Tetapi berlama-lama berada di kompleks itu tetaplah mengasyikkan, seolah-olah sedang berada di “dunia lain”. Antara unsur mistis dan religius menjadi bias, bahkan mengaburkan batas antara dunia nyata dan dunia khayalan.

Yang pasti kita akan terpesona oleh keterampilan para perajin dan pemahat batu itu. Apalagi ketika melihat karya yang sudah paripurna, dan tersaji di galeri, sekadar menunggu pembeli.

 

Mungkin Anda akan berdecak kagum melihat keterampilan para pematung yang mampu mengolah bebatuan menjadi karya menakjubkan.

 

Tapi, silakan nyengir kalau Anda melihat karya imajinatif para seniman, yang menerobos jauh ke dunia antah berantah.

 

Ya, itulah dunia seni. Sebuah dunia yang tanpa batas, yang mampu menjelajah ke mana saja sesuai dengan kehendak dan imajinasi penciptanya (seniman). Intinya, pengunjung atau calon pembeli dapat memuaskan dahaga batinnya selama berada di Batikan.

Patung-patung Bunda Maria tersedia dalam berbagai ukuran, dengan beragam bahan baku. Ada pula Dewi Kwan Im yang diyakini umat Konghucu sebagai dewa yang Maha Bijaksana, Maha pengasih, dan Maha Penolong. Bahkan para perajin juga berhasil “memindahkan” dan “membonsai” Candi Borobudur ke Batikan. Luar biasa!!!

 

Sentral Bisnis

Memang, hasil karya seni di Batikan murni bisnis. Jadi, apa pun yang lahir dan terbentuk adalah karya yang diperjualbelikan. Oleh karena itu, berbagai bentuk hasil pahatan -mulai yang berbau etnis, mistis, kontemporer, hingga modern- selalu terkait dengan harga.

 

Salah satu perajin yang cukup besar di sana adalah Sanggar Nakula-Sadewa milik I Nyoman Alim Mustapha. Sanggar yang cukup luas itu memberi warna berbeda dari sanggar-sanggar lainnya.

 

Hampir semua patung ada di sana dalam berbagai bentuk dan ukuran. Umumnya yang berukuran besar dan khas merupakan pesanan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

 

“Turis yang sering datang kemari antara lain dari Italia, Inggris, Malaysia, Kamboja, Vietnam, Thailand, dan Myanmar,” kata Nyoman, seniman asal Bali yang sejak 1967 menggeluti patung batu. Dia mempunyai akses internasional yang luas dan amat menunjang bisnisnya.

 

Beberapa replika Candi Borobudur berukuran 5 x 5 m2, misalnya, kini sudah ada di Austria, Afrika, Thailand dan sebagainya. Saat ini sanggarnya juga mendapat pesanan untuk membuat tiruan berbagai bangunan bersejarah di beberapa negara, seperti Angkor Wat (Kamboja), Pagoda Dagon Shwe (Myanmar), serta Istana Potala (Tibet).

 

Meski tidak ada data akurat, pusat-pusat kerajinan batu di Mungkin ini menjadi gantungan hidup sekitar 500 orang tenaga kerja, mulai dari perajin / pematung, tenaga penjualan, sampai tenaga pembukuan.

 

Nyoman pun mengaku tidak punya data mengenai hal ini. Bahkan ia juga tak tahu, berapa omzet harian di sanggarnya. “Bisnis begini sulit diterka pemasukannya. Tidak seperti barang lainnya, yang harga dan konsumennya bisa dilihat,” jelas Yanti, seorang penjaga toko di Nakula-Sadewa.

 

Tapi seperti ditegaskan Totok, salah seorang perajin, semua orang yang bekerja di bidang ini pada intinya dalam rangka menjalani proses kehidupan, dalam arti mencari uang untuk makan, biaya sekolah anak, maupun menikmati hidup.

 

“Namun, di luar menjalani proses kehidupan, tentu saja kami mendapat kepuasan batin dari memproduksi dan menikmati karya seni ini. Saya kira… inilah hidup dan kehidupan,” ujarnya berfilsafat.

 

Ia lalu menunjuk patung Buddha yang tingginya sekitar satu meter. Untuk patung sebesar itu, harganya dapat mencapai Rp 50 juta. Selain tergantung dari faktor kesulitan dalam pembuatannya, harga juga tergantung dari bahan baku. Sebab ada patung yang bahan bakunya berupa batu candi hitam, batu putih, marmer, granit, perunggu, fiberglas, giok, dan sebagainya.

 

Berbulan-bulan

Berapa lama waktu yang diperlukan untuk membuat patung Dewi Kwan Im dari bahan marmer dengan tinggi 1,5 meter? Menurut seorang pemahat di Nakula-Sadewa, jika dikerjakan siang-malam tanpa henti, dia butuh waktu sekitar enam bulan.

 

Untuk ukuran orang Indonesia, yang kira-kira bekerja delapan jam sehari, tentu patung dengan ukuran dan bahan tersebut baru bisa diselesaikan dalam waktu 1,5 tahun.

“Itu pun jika dia sudah berpengalaman, terutama dalam memahami karakter bahan baku. Selain itu, sebagian besar pematung di Batikan bukan seniman tulen, yang bisa berimajinasi tentang karya-karyanya. “Sifat mereka memang seperti pahat. Kalau tidak diketok, ya tidak jalan, ha..ha..ha..,” ujar seorang bos perajin.

 

Meski kerajinan pahat batu di Mungkid sudah muncul sekitar 45 tahun lalu, tapi belum ada tanda-tanda kemandirian. Peralatan yang dimiliki para perajin sangat terbatas, dan kebanyakan didatangkan dari India. “Menurut saya, peralatan itu agak keras, sehingga harus dipukul dengan sekuat tenaga,” jelas Sunarto, yang sudah 10 tahun menjadi pemahat.

 

Bahan baku juga masih didatangkan dari luar daerah. Misalnya, batu candi hitam dan putih didatangkan dari Wonosari (Gunungkidul), marmer dari Tulungagung dan Makassar. Bahkan ada pula bahan yang mesti diimpor.

Dengan kondisi seperti itu, maka hasil karya berkualitas tinggi memiliki harga yang tinggi. Namun karya seni memang tidak bisa diukur semata-mata berdasarkan uang. Sebab karya seni butuh pemahaman, cara menikmati, sikap maupun pandangan tentang karya seni itu sendiri (48)

About these ads

15 Responses to “Menengok Kerajinan Pahat Batu di Muntilan (1)”

  1. agus said

    kalau batikan dengan muntilan wilayahnya sudah berbeda. Batikan adalah di kota mungkid tetapi kalau yang di maksud pengrajin muntilan ya didesa Sidoharjo tamanagung muntilan. artikel tersebut saya anggap salah menempatkan pengrajin muntilan. tolong lebih teliti lagi.

  2. agus said

    kalau sejarah kerajinan batu di Mungkid menurut saya pikir bukan 45 tahun yang lalu, karena dusun Sidoharjolah yang mempunyai sejarah itu, apalagi kerajinan batu di desa batikan. baru kemareeen ya tahun 90 an.

  3. lia said

    kalo cari bahan untuk pembuatan patung, saya ada barangnya.

  4. Fanie said

    Tolong alamat lengkap tempat pembuatan patung di Muntilan…. Thanx..

  5. sutadi said

    tolong kasih alamat suplier cobek batu muntilan

  6. h3ndragunawan said

    bisa dicoba web2 inimgkn bisa membantu…http://patungbatumuntilan.blogspot.com/, http://herrysart.wordpress.com/, tapi klo lebih baik lgs datang ke dusun kami (Sidoharjo, tapi lebih terkenal dengan nama dusun Prumpung)yang berada sebelum kota magelang (klo dari arah yogyakarta)

  7. hengky said

    nice blog…visit our blog:
    dipoteknikmagelang.blogspot.com

  8. SKETSA web said

    salam dari kami SKETSA Web.
    jika ingin beriklan n buat web… kunjungi situs kami…www.sketsa1.com
    http://www.beriklan.com... or gabung digroup facebook sketsa web
    Situs Web:
    http://www.sketsa1.com
    http://www.beriklan.com
    http://www.3tugu.com
    http://www.jogjaya.com
    Kantor:
    SKETSA : Jl. Gajah Mada No. 15 A Pakualaman Yogyakarta (0274) 540933 (0274) 547241 (0274) 6527724 08122957254 – 085865226644 thanks

  9. berita indonesia…

    [...]Menengok Kerajinan Pahat Batu di Muntilan (1) « Hendra Gunawan[...]…

  10. kami dari tamanagung muntilan,siap bekerja sama, dan terima pesanan pahat batu

  11. unpas,universitas…

    [...]Menengok Kerajinan Pahat Batu di Muntilan (1) « Hendra Gunawan[...]…

  12. alat kantor…

    [...]Menengok Kerajinan Pahat Batu di Muntilan (1) « Hendra Gunawan[...]…

  13. Prediksi Skor dan Berita Seputar Bola…

    [...]Menengok Kerajinan Pahat Batu di Muntilan (1) « Hendra Gunawan[...]…

  14. Anonymous said

    minta tolong pemasaran cobek…saya pengrajin cobek,munthu,lumpang,alu…add FB saya wima_swara12@yahoo.co.id

    thanx…

  15. Lela said

    Your entire post, “Menengok Kerajinan Pahat Batu di Muntilan (1) | Hendra Gunawan” ended up
    being well worth writing a comment here! Really wished
    to admit you really did a fantastic job. Many thanks -Kandace

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: