Hendra Gunawan

Hanya ingin dikenal dunia….

Menengok Kerajinan Pahat Batu di Muntilan (2)

Posted by Hendra Gunawan on August 21, 2008

Menengok Kerajinan Pahat Batu di Muntilan (2)

 

DARI sekian banyak pengusaha kerajinan pahat batu di Desa Pabelan, Mungkid tak banyak yang mampu mengembangkan sayap hingga ke mancanegara. Salah seorang di antaranya adalah I Nyoman Alim Mustapha. Lelaki kelahiran Sempidi, Bali ini menghabiskan waktu 37 tahun di bidang perpatungan.

 

Karya Nyoman banyak menjelajah ke negara di lima benua: Asia, Australia, Eropa, Afrika, dan Amerika. Sayang, pematung ini sulit diajak bicara soal kesuksesannya. Ada kesan menghindar, karena dia lebih suka membahas bagaimana membuat karya seni yang mampu menyaingi karya para seniman luar negeri, khususnya Spanyol, Italia, China, Taiwan, dan Thailand.

 

Meskipun menghindar, kesuksesan Nyoman tidak lepas dari pandangannya terhadap karya seni itu sendiri. ”Karya seni itu bebas menjelajah ke mana saja baik ke dunia mistis, etnis, religi, lucu maupun porno menurut ukuran sebagian orang. Itu pula yang harus saya lakukan,” ungkapnya.

 

Hidup dan kehidupan Nyoman tidak hanya mengalir. Bersama seni, dia harus menjelajah ke mana-mana. Untuk itu, dia sering berjalan-jalan ke luar negeri atau ke mana saja mencari dan memahami ”dunia lain”.

 

Dunia yang tak sebatas tanah yang dipijak atau negeri yang hanya sekadar melahirkannya.

Tentu kepergiannya tidak semata-mata untuk mencari kesenangan tetapi juga mendapatkan pasar karyanya. Nyoman sering mengikuti pameran seni patung di Singapura, Jepang, dan negara-negara lain. Tak heran, jika kreasinya tidak hanya bicara tentang masa lalu seperti membuat replika Candi Borobudur, Candi Mendut, dan sejenisnya. Nyoman juga merambah ke dunia modern.

 

Bahkan, dalam ”bermain” di pasar global, pemilik Sanggar Nakulo Sadewo ini juga membuka situs di dunia maya, yaitu nakulo_sadewo@yahoo.com dan linangsayang@yahoo.com.

 

Ke Masa Depan

Puaskah Nyoman melihat kondisi di pusat seninya? Belum! Sebagai seniman, rasa puas akan memberikan tanda titik, berhenti! ”Dan, ini tak boleh terjadi. Sebab, seni yang saya geluti adalah seni dalam pasar yang senantiasa berkembang mengikuti globalisasi dunia,” ujarnya.

 

Dalam persaingan pasar bebas, kalau kita tidak siap dengan SDM, pasti akan tersingkir. Nyoman tak sudi melihat seni pahat batu hilang ditelan zaman. Seni khas Dusun Batikan itu harus tetap bertahan sampai kapan pun. Lebih dari itu harus bisa melaju bersama perkembangan dan kemajuan zaman.

 

Untuk menuju ke arah sana, konsep pengembangan pusat kerajinan itu harus tetap dibina baik oleh para seniman sendiri maupun pembinaan dari Pemerintah Kabupaten Magelang dan Pemerintah Provinsi Jateng.

 

Para seniman setempat yakin dengan cara berpikirnya bahwa mereka harus terus menjelajah, mencari dan selalu mencari format baru agar tetap eksis. Memang dalam menatap masa depan, di tengah-tengah persaingan antarpengusaha lokal perlu ada kerja sama untuk menghambat serbuan produk luar yang masuk ke Tanah Air.

 

Seniman-seniman dari China, India, dan Taiwan sudah melangkah lebih cepat dalam pembuatan patung dengan bahan baku giok. Untuk menyamai karya mereka, tentunya para seniman lokal perlu menambah wawasan, ilmu, dan teknologi ke luar negeri. Jika tidak, produk lokal akan selalu tertinggal.

 

Sentuhan teknologi memegang peran penting agar mampu menghasilkan produk yang maksimal. Selain itu, dengan teknologi mumpuni, waktu untuk penggarapan sebuah karya bisa dipersingkat.

 

Terlepas dari semua kendala tersebut, beberapa pengusaha di Mungkid sudah bisa menembus pasaran dunia. Nyoman misalnya, dipercaya membuat replika bangunan-bangunan terkenal dan bersejarah di luar negeri.

 

Saat ini, dia sedang membuat tiruan Pagoda Dagon Shwe (Myanmar), salah satu dari puluhan monumen Buddha berukuran raksasa di negara itu. Dia pun merancang replika Angkor Wat di Kamboja.

 

Angkor Wat merupakan bangunan bersejarah yang dibangun pada 1100. Pagoda ini merupakan bangunan batu yang penuh pahatan berupa patung-patung dewa yang dalam perkembangannya menjadi salah satu tempat suci umat Buddha.

Adapun pekerjaan terberat Nyoman adalah membuat replika Potala di Tibet, yaitu bangunan istana yang menjadi tempat tinggal Dalai Lama yang dibangun pada abad ke-17 yang pernah menjadi biara dan pusat administrasi negara. (I Nengah Segara Seni-48b)

 

Sumber: suaramerdeka.com

3 Responses to “Menengok Kerajinan Pahat Batu di Muntilan (2)”

  1. pestalino said

    saya dari PT. Mahadana Asta Berjangka, dimana perusahaan kami bergerak di bisnis futures,
    dimana futures itu adalah pegerakan nilai mata uang asing, yang kita pakai saat ini 5 mata uang yang terbesar.
    GBP,EURO,dll

    apakah anda sudah mengenal index dan forex.
    jika ingin bergabung di bisnis ini

    visit saja ke website
    atau hub

    0813-9200-2043 (pestalino)
    Trader/ Bussines Consultan

  2. pestalino said

    aya dari PT. Mahadana Asta Berjangka, dimana perusahaan kami bergerak di bisnis futures,
    dimana futures itu adalah pegerakan nilai mata uang asing, yang kita pakai saat ini 5 mata uang yang terbesar.
    GBP,EURO,dll

    apakah anda sudah mengenal index dan forex.
    jika ingin bergabung di bisnis ini

    visit saja ke website
    atau hub

    0813-9200-2043 (pestalino)
    Trader/ Bussines Consultan

  3. sangat menginspirasi, kalau di bandingkan dengan pak nyoman dalam menekuni seni pahat batu(37 tahun) juprigallery.com belum ada apa apanya, namun kami memiliki asal dan pengrajin dari daerah yang sama. dan pelanggan kami sudah tersebar di beberapa kota di indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: