Hendra Gunawan

Hanya ingin dikenal dunia….

Menengok Kerajinan Pahat Batu di Muntilan (3-Habis)

Posted by Hendra Gunawan on August 21, 2008

Menengok Kerajinan Pahat Batu di Muntilan (3-Habis)

 

ORANG bijak pernah berkata, ”Tempat belajar terbaik bagi anak adalah di rumah”. Sebab di rumah, orangtua akan memberikan pelajaran itu dengan setulus hati. Jika diawali dari rumah, niscaya semua akan menjadi baik. Tak ada orangtua yang ingin menjerumuskan anaknya.

 

Karena itu, segala sesuatu yang diidamkan di masa depan tentulah dimulai sejak usia dini; ketika mereka belum tahu mengenai tentang dunia luar. Tapi hal ini sulit dilakukan generasi tua pemahat batu di Mungkid. Mengapa? Mungkin karena seni berbeda dengan bidang lainnya.

 

Seni bukan hanya membutuhkan penghayatan atas sebuah objek, tapi juga kecintaan dan penjiwaan. Oleh sebab itu, jika tidak dimulai dari awal (rumah, lingkungan-Red), dipastikan seni hanya sebatas menjadi objek tanpa kreativitas.

 

Mencintai dan menghayati seni perlu dilakukan anak-anak yang lahir di kompleks kesenian, tak terkecuali di pusat seni pahat batu Mungkid. Kenyataannya, sulit sekali mendapatkan anak yang benar-benar tertarik pada dunia ini, karena pihak orangtua juga kurang gigih mengenalkan ”dunianya” kepada darah dagingnya.

 

”Mereka umumnya melihat seni hanya sebatas hobi. Sehingga para orangtua lebih menghendaki anaknya menjadi dokter, insinyur, arsitek, atau guru. Tetapi bukan menjadi seniman,” kata I Nyoman Alim Mustapha, pemilik Sanggar Nakula-Sadewa, Mungkid.

 

Masalah regenerasi ini menjadi kendala serius, karena sangat menentukan sumber daya manusia (SDM) di masa depan. Karena itu, beberapa pihak yang mencemaskan kelanggengan pusat pahat di Mungkid mulai bergerak. Antara lain dengan membuka kelas pahat di SD Taman Agung 4.

 

Meski belum terlihat hasilnya, ini lebih baik daripada tidak sama sekali. Seperti konsep di atas, pengenalan sejak dini jelas lebih bermanfaat ketimbang mendidik atau melakukannya setelah berusia 20 tahun atau lebih.

 

Mestinya kondisi macam ini tak perlu terjadi di Mungkid. Karena di Bali maupun di Jepara, anak-anak sudah bisa melakukannya. Lingkungan telah mendidik mereka dan para orangtua giat memacu anak-anak.

 

”Bagi saya, yang penting anak-anak bisa melihat dan mengalaminya, syukur jika kelak mampu mencintainya. Kalau pun ketika besar nanti mereka jadi dokter, toh jiwa seninya tidak bakal hilang,” kata Nyoman.

 

Dukungan Pemerintah

 

Sebagai bentuk usaha yang fleksibel, kerajinan pahat/patung batu pantas mendapat dukungan, motivasi, bahkan permodalan dari pemerintah. Tatkala negara dilanda krisis hebat, usaha kerajinan ternyata kuat bertahan. Mereka tak goyah oleh krisis yang merontokkan sejumlah konglomerat dan perusahaan besar.

Terlepas dari kemampuan menghadapi krisis, kerajinan pahat batu ini tetap memerlukan suntikan modal, , untuk pengembangan produk maupun menambah daya saing di persaingan global. Mereka tidak cukup diberi pelatihan manajemen, pemasaran, dan sebagainya.

 

Indonesia beruntung mempunyai banyak objek wisata unggulan yang jadi perhatian dunia, seperti Bali dan Borobudur. Banyaknya wisatawan asing datang ke daerah-daerah tersebut, ikut membuka pasar dunia bagi produk-produk pendukung seperti kerajinan batik tulis dan pahat batu.

 

Kenyataannya, para perajin di Indonesia kerapkali gigit jari, karena terlambat langkahnya ketimbang para pesaing dari negara asing. Contoh terakhir, Batik Parang asal Solo sudah dipatenkan Malaysia. Tempe dan ayam kampung (buras) juga sudah dipatenkan orang Jepang.

 

Ini jelas kebangeten, mengingat batik, tempe, maupun ayam kampung jelas milik bangsa Indonesia sejak nenek moyang jaman dulu. Selain itu banyak produk asli yang dikembangkan di luar negeri. Nah, jika sudah begitu, lalu kita masih punya apa lagi?

 

Sering Terlena

 

Karena itu, tepat sekali apa yang dikatakan Nyoman Alim. ”Kita tidak boleh berhenti. Kita harus menjelajah, melihat dunia lain, bahkan kalau mungkin ‘mencuri’ teknologi pesaing,” tuturnya.

 

Selama ini kita memang sering terlena dengan produk sendiri yang berkarakter, khas, dan istimewa. Lalu dikaitkan dengan kultur, adat istiadat, budaya, dan tetek-bengek lainnya. Tapi kita lupa, kemajuan teknologi mudah diselewengkan untuk meniru, menjiplak, atau mengembangkan produk sejenis sehingga lebih apik dari masternya.

 

Karena itu, keunggulan, kekhasan dan keistimewaan lokal yang harus dikombinasi dengan kemajuan iptek, agar produk-produk seni bangsa Indonesia mempunyai daya saing tinggi. Di sini pula pentingnya peranan Pemerintah.

 

Nyoman memang tak sependapat jika modal (uang) selamanya menjadi faktor utama dari sukses seniman dalam berkarya. Yang terpenting, bagaimana menjadikan karya seni selalu melangkah ke depan mengikuti perkembangan zaman. Untuk itulah, seniman harus punya rasa cinta dan selalu ingin tahu tentang seni di dunia lain. (I Nengah Segara Seni-48)

One Response to “Menengok Kerajinan Pahat Batu di Muntilan (3-Habis)”

  1. kunjungi gallery kami…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: