Hendra Gunawan

Hanya ingin dikenal dunia….

Iwak Peyek pun Tidak Menolong Tebu

Posted by Hendra Gunawan on May 25, 2012

Saya tertegun ketika berkunjung ke Pabrik Gula Madukismo, Yogyakarta, hari Minggu pagi kemarin.  Terutama ketika melihat ada crane baru di situ.

“Baru beli crane ya?” sapa saya kepada Ir Putu Aria Wangsa, Kabag Instalasi yang mendampingi saya naik turun tangga di pabrik gula itu.

Crane pengangkat tebu ke  mesin penggilingan itu memang kelihatan masih baru. Catnya yang kuning mengkilap terasa kontras dengan mesin-mesin lain di sekitarnya yang sudah kelihatan karatan.

“Itu bukan baru Pak. Itu crane Ayu Azhari,” jawab Putu sambil terlihat menahan tawa.

Semula saya kurang paham apa maksudnya. Tapi tawa saya segera meledak ketika Putu menyebut isi Manufacturing Hope 25 yang saya tulis pekan lalu: peralatan pabrik yang tua-tua pun akan kelihatan ayu dan rapi kalau dirawat dengan baik.

“Setelah membaca Manufacturing Hope itu kami langsung bersihkan dan mengecat crane itu,” tambahnya.

Memang pabrik-pabrik gula milik BUMN umumnya luar biasa kotor dan semrawut. Besi-besi tua berserakan di mana-mana, termasuk di dalam pabrik dan di sekitar mesin. Atap-atap bolong terlihat di seluruh pabrik.

Dinding-dindingnya banyak yang compang-camping. Gundukan berbagai materal terlihat di berbagai sudut halaman muka dan belakang. Besi-besi karatan mendominasi pemandangan.

Pabrik Gula Madukismo yang didirikan tahun 1955, termasuk yang paling muda di jajaran pabrik gula BUMN. Juga termasuk yang masih relatif bersih dan teratur di banding 52 pabrik lainnya.

Tapi tetap saja masih terasa seperti horor. Padahal, biar pun tua, kalau dirawat dengan baik pasti berbeda penampilannya. Apalagi ini pabrik yang mengolah makanan, yang seharusnya identik dengan kebersihan dan keindahan.

“Crane Ayu Azhari” tadi menjadi contoh yang nyata. Betapa hanya dengan sedikit sentuhan saja penampilan Madukismo terlihat mulai berbeda. Apalagi kelak kalau bagian-bagian lain juga dirawat dengan cara yang sama.

Saya yakin teman-teman di semua pabrik gula mampu mewujudkannya. Tentu pembenahan fisik itu tidak perlu dilakukan sekarang. Saat ini semua perhatian harus tercurah pada persiapan dimulainya musim giling. Semua energi fokus dulu ke situ. Apalagi seperti Madukismo ini sudah memutuskan memulai giling dua hari lalu, maju seminggu dari kesepakatan awal.

Keputusan ini diambil untuk menolong petani tebu di sekitar Yogya dan Purworejo yang lagi berlomba melawan hama uret. Kian mundur dimulainya giling, kian luas hama itu menghancurkan tebu milik petani. Semula saya heran mengapa hama uret tidak bisa diatasi. Karena itu, setelah urusan di PG Madukismo selesai, saya minta diantar ke kebun-kebun yang terkena hama.

Saya iba melihat kebun tebu yang meranggas, yang kekuningan, dan yang terlihat sakit-sakitan. Para petani di Sleman itu mengajak saya masuk lebih dalam ke areal yang terkena uret. Salah seorang di antaranya membawa cangkul. Dia ingin menunjukkan betapa sulitnya uret dikendalikan. Dia cangkul tanah di bawah tebu yang sakit-sakitan itu. Dalam beberapa kali cangkulan, dia sudah bisa memunguti ulat-ulat gemuk sebesar jari bengkak orang dewasa.

“Dalam satu meter persegi bisa kita temukan 50 uret,” ujar ujar Gito Sudarno, petani tebu yang juga ketua DPD Asosiasi Petani Tebu Rakyat (APTR) Yogyakarta.

Uret-uret itu memakan akar tebu. Di Sleman saja 300 ha yang terkena uret. Di Purworejo dua kali lipat luasnya. Itulah sebabnya tebu yang terkena uret harus segera ditebang. Berarti pabrik gula harus mempercepat musim gilingnya.

“Yang sudah terkena uret pun masih bisa menghasilkan 60%,” ujar Roby Hermawan, petani yang juga pengurus APTR

Di masa lalu berbagai upaya melawan uret itu sudah dilakukan. Berbagai bahan kimia juga sudah dicoba. “Belum ada yang berhasil,” tambah Ristiyanto, petani tebu yang juga pengurus nasional APTR. Bahkan pernah dicoba gerakan membuat iwak peyek dari uret. Maksudnya agar mangsa tebu itu balik dimangsa manusia. Gagal juga.

Pertama, iwak peyek dari uret tidak segurih iwak peyek dari kacang atau teri. Kedua, uret itu sembunyi ke dalam tanah yang dalam. Sedalam 3 meter pun masih ditemukan uret. Ini benar-benar tantangan bagi ahli dari universitas yang memiliki jurusan khusus bidang pemberantasan hama. Pernah petani mengubah tanaman tebu menjadi ketela rambat dan ubi kayu. Sama saja. Bahkan lebih hancur. Lalu ditanami jagung: idem ditto. Menurut para petani, satu-satunya yang tahan uret adalah tanaman wijen. Tapi hasilnya tidak nyucuk. Akhirnya tidak ada pilihan lain kecuali menanam tebu. Biar pun hanya 60% dari normal, masih lebih menghasilkan daripada tanaman lain. Karena itu para petani di kawasan tersebut berharap pabrik gula bisa membuat jadwal giling yang cocok untuk mereka.

Cara terbaik untuk mengurangi dampak uret itu, menurut pengalaman para petani yang sudah puluhan tahun bergaul dengan uret, hanyalah: kejar-kejaran waktu. Saat uret belum jadi semacam kepompong, tebu sudah harus ditanam. Agar tebu sudah bisa dipanen saat kepompong itu bermetamorfosis menjadi uret. Itu berarti bulan Juni (bulan depan) petani sudah harus kembali menanam tebu.

Dalam proses metamorfosis, kepompong itu akan jadi binatang terbang semacam kwangwung dan menetaskan telur pada bulan tertentu. Saat itu nanti tebu sudah mulai tinggi. Sebaiknya tebu sudah matang untuk ditebang pada awal Mei, menjelang uret gencar-gencarnya menyerang. Itu menurut ilmu para petani berdasarkan pengalaman mereka yang puluhan tahun. Entahlah, cara ilmiahnya seperti apa.

Memang uret tersebut hanya menyerang tebu di kawasan tertentu. Yakni di daerah yang tanahnya agak berpasir. Petani menyebutkan jenis tanah ini dengan istilah “tanah ngompol”. Tanah yang biar pun di musim kemarau yang kering masih menyimpan air di dalamnya. Tingkat kebasahan itulah yang membuat kelembaban di dalam tanah sangat ideal untuk berkembang biaknya uret.

Dalam kasus seperti ini pabrik gula memang tidak boleh egois. Tebangan tahap pertama memang harus memprioritaskan tebu dari kawasan rawan seperti ini. Ini persoalan khas Madu Kismo. Saya belum mendengar pabrik gula yang lain mengalami problem yang sama. Meski begitu, minggu-minggu mendatang saya akan lebih banyak mengunjungi pabrik gula.

Saya ingin melihat seberapa semangat masing-masing pabrik gula berbenah diri. Seberapa kuat tekad mereka untuk keluar dari neraka kesulitan selama ini. Saya tahu bahwa di seluruh pabrik gula sudah mempunyai tekad baru. Kerja, kerja, kerja.

Saya bangga ketika menerima informasi bahwa kini sudah ada pegawai yang berani menolak suku cadang pabrik yang tidak memenuhi spek. Itulah suku cadang yang kalau dipaksakan akan membuat pabrik lebih sering berhenti giling. Kalau saja pembenahan manajemen tahun ini berhasil, masih ada pekerjaan besar lainnya tahun depan. Yakni perang melawan lahan dan tanaman fiktif. Tidak boleh lagi pabrik memiliki lahan dan tanaman yang hanya ada di atas kertas, tapi kenyataannya tidak ada di lapangan. Biayanya sudah banyak keluar tapi tebunya tidak ada.

Pekerjaan lainnya yang menanti adalah, itu tadi, pembersihan pabrik secara total. Ketika musim giling nanti selesai, pembenahan pabrik harus dilakukan. Bagian-bagian pabrik yang kumuh, tidak rapi, gundukan-gundukan, besi-besi tua harus dirapikan. Memang ada kesalahan saya di sini: tidak segera mengubah peraturan Menteri BUMN yang menghambat terjadinya pembenahan ini.

Saya berjanji untuk dalam satu-dua hari ini mencabut peraturan itu. Dengan demikian manajemen tidak ragu lagi dalam menyingkirkan benda-benda yang membuat kotor itu.

Kabar baik yang lain datang dari Menteri Perdagangan Gita Wirjawan. Beliau sudah memutuskan yang boleh mengimpor raw sugar nanti adalah pabrik gula milik BUMN. Tujuannya untuk menambah efisiennya pabrik gula kita.

Dulu memang ada janji bahwa importir raw sugar haruslah yang punya pabrik gula, atau yang berjanji segera membangun pabrik gula. Sampai hari ini, setelah sekian tahun impor raw sugar diberikan, memang belum ada yang membangun pabrik gula.

Impor raw sugar itu nanti juga dijatuhkan tepat pada saat pabrik gula hampir selesai melakukan giling. Maksudnya, agar selesai menggiling tebu, pabrik gula bisa langsung menggiling raw sugar. Karena itu pabrik gula yang baik akan mendapat kesempatan menambah efisien dengan cara menggiling raw sugar.

Hanya manajemen pabrik gula yang baik yang akan mendapat kepercayaan itu. Sebuah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Hidup Ayu Azhari!*)

Dahlan Iskan
Menteri BUMN

Sumber: Catatan Dahlan Iskan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: