Hendra Gunawan

Hanya ingin dikenal dunia….

Home Sweet Home

Muntilan

Muntilan adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Indonesia yang menjadi pusat perdagangan dan jasa di bagian Selatan Kabupaten Magelang. Muntilan terletak sekitar 10 Km dari Kota Mungkid yang menjadi pusat pemerintahan atau ibukota dari Kabupaten Magelang, 15 Km dari Kota Magelang, dan 25 Km dari Kota Yogyakarta. Muntilan telah lama menjadi pusat perdagangan dan jasa di bagian Selatan Kabupaten Magelang dan berada di jalur provinsi yang menghubungkan Kota Semarang, Kota Magelang, dan Kota Yogyakarta.

Muntilan juga berada di jalur kereta api tua yang menghubungkan Stasiun Tugu Kota Yogyakarta, Stasiun Blabak Mungkid, Stasiun Kebonpolo Kota Magelang, Stasiun Ambarawa, dan Stasiun Tambaksari Kota Semarang yang sekarang sudah tidak berfungsi lagi.

Kecamatan Muntilan berbatasan dengan Kecamatan Mungkid di Barat, Kecamatan Sawangan di Utara, Kecamatan Dukun, Srumbung, dan Kecamatan Salam di sebelah Timur, serta Kecamatan Borobudur dan Ngluwar di Selatan. Kecamatan Muntilan di lewati sungai-sungai yang berhulu di Gunung Merapi antara lain sungai Pabelan, Lamat dan Blongkeng. Sungai sungai tersebut merupakan jalur banjir lahar hujan Gunung Merapi yang membawa material berupa pasir dan batu.

Kecamatan Muntilan sudah ada sejak peralihan kekuasaan atas Karesidenan Kedu dari Kesultanan Yogyakarta kepada pemerintah kolonial Inggris pada tahun 1812. Pada awal keberadaannya, kecamatan ini merupakan tempat pemukiman orang Tionghoa. Pada masa Perang Diponegoro, laporan Belanda menyebutkan bahwa salah satu benteng dari proyek Benteng Stelsel dari Jendral De Kock dibangun di kecamatan ini.

Setelah Perang Diponegoro selesai dan Kultuurstelsel diberlakukan di Jawa termasuk di Karesidenan Kedu, Muntilan tumbuh menjadi kecamatan. Namun demikian wilayah ini diperintah oleh seorang wedana yang berkedudukan di Probolinggo (Bolinggo), satu kilometer di sebelah timur Muntilan ke arah Yogyakarta, yaitu di wilayah Kecamatan Salam sekarang. Baru pada saat pemerintah kolonial mengadakan reorganisasi pemerintahan pada tahun 1900, Muntilan menerima status sebagai kawedanan sekaligus distrik. Dengan perubahan status ini, sejak itu kedudukan wedana dipindahkan dari Probolinggo ke Muntilan sementara di kecamatan ini juga ditempatkan seorang pejabat Belanda berpangkat kontrolir yang tunduk kepada asisten residen di Magelang.

Peristiwa sejarah penting di Muntilan di antaranya adalah kedatangan Pastur F. van Lith pada tahun 1894 yang memulai penyiaran agama Katolik di antara masyarakat Jawa. Dalam waktu sepuluh tahun van Lith telah berhasil membangun suatu komunitas umat Katolik Jawa yang mencakup daerah pelayanan hingga Sendangsono di Kulon Progo, Sumber di utara, Salam di timur, dan Tumpang di arah barat. Sementara itu wilayah Borobudur dilayani oleh rekannya, Pastur Hoevenaar. Van Lith bukan hanya membangun komunitas Katolik namun juga kompleks pendidikan sekolah Katolik yang sampai sekarang masih berfungsi termasuk asrama dan rumah sakit, yang diresmikan pada tahun 1902.

Peristiwa sejarah lain yang mempengaruhi tata ruang Kecamatan Muntilan adalah pembukaan rel kereta api oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) pada tahun 1892 yang menghubungkan Yogyakarta dan Magelang. Kecamatan Muntilan dilewati jalur ini dan sebagai teknisinya adalah Ir. The Tjien Ing, yang dipindahkan dari Secang oleh direksi NISM ke Muntilan pada tahun 1892. The Tjien Ing kemudian diangkat menjadi kepala kampung Cina (Chineezen Wijk) pada tahun 1903 dan pada tahun 1912 dilantik di klenteng Muntilan sebagai letnan Cina (het leiutenant voor Chineezen) oleh kontrolir Muntilan. Rumah The Tjien Ing yang sekarang berada di Jalan dr. Sutomo, merupakan tempat tinggal sementara Pastur Van Lith ketika tiba di Muntilan pada tahun 1893. Ia baru pindah ke kompleks Perikanan Muntilan sekarang pada tahun 1894.

Ketika Perang Dunia II, Muntilan menjadi tempat sebuah kamp tahanan perang oleh tentara Jepang yang menggunakan kompleks sekolah Katolik di sana. Mereka yang menghuni kamp internir ini terutama terdiri atas banyak keluarga Belanda.

Wisata religi yang sangat dikenal oleh masyarakat di antaranya adalah makam Kyai Raden Santri Gunungpring di Desa Gunungpring, yang dikunjungi oleh sekitar 500 pengunjung setiap harinya dari berbagai daerah di Jawa. Juga makam Romo Sandyoyo, Kerkop Muntilan, yang dikenal dan dikunjungi oleh umat Katholik di Indonesia

Para Yesuit telah lama hadir di Muntilan. Terdapat sebuah seminari dan nekropolis yang banyak berisi peninggalan para anggota lamanya. Kardinal Julius Darmaatmadja, kardinal Gereja Katolik Roma dan Uskup Agung Jakarta saat ini, lahir di Muntilan. Selain itu di kota ini terdapat lembaga pendidikan yang dikelola oleh yayasan Katolik sejak zaman Belanda. Yang paling menonjol adalah Sekolah Guru (Kweekschool)(sekarang SMA Van Lith Pangudi Luhur). Di samping itu juga ada beberapa sekolah dasar bagi anak-anak pribumi. Selain beberapa tokoh rohaniawan Katolik, lembaga pendidikan itu juga meluluskan sejumlah tokoh nasional seperti mendiang Frans Seda (mantan Menteri Keuangan), Simbolon (Kolonel), dan Sartono Kartodirdjo (sejarawan).

Di wilayah kecamatan ini juga terdapat candi peninggalan agama Buddha, yaitu Candi Ngawen. Candi ini yang cukup menarik karena berjajar lima bangunan dalam satu kompleks, dengan pahatan singa pada masing-masing sudut kaki candi.

Sumber: Wikipedia

——-

Dusun Sidoharjo (Prumpung)

Dusun Sidoharjo terkenal sebagai dusun pemahat patung batu, dari semula sampai sekarang menggunakan material utama batu andesit. Mereka menggunakan bahan batu andesit, karena pada dasarnya desa Sidoharjo ini letaknya berdekatan dengan sumber bahan baku. Oleh karena itu, sudah sewajarnya mereka banyak memanfaatkan potensi yang ada.

Dusun Sidoharjo asal mulanya bernama Prumpung, namun karena dusun ini kemudian menjadi ramai, maka nama Prumpung kemudian diganti menjadi Sidoharjo. Dalam bahasa Jawa, Sido berarti jadi, sedangkan Harjo artinya ramai. Jadi Sidoharjo mempunyai arti menjadi ramai. Desa sidoharjo ini termasuk didalam wilayah Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan Kabupaten Magelang Propinsi Jawa Tengah.

Lereng Merapi, dusun Sidoharjo dan candi Borobudur, pada abad kesembilan termaduk jalinan sakral yang lahir lewat penghayatan masyarakatnya dalam pembangunan tempat ibadah yang yang berdiri kokoh dan megah. Diawali oleh gagasan besar Wangsa Sailendra untuk membangun tempat ibadah bagi warganya. Jalinan sakral pada abad ini berubah menjadi jalinan bisnis para pemahat patung batu.

Lereng Merapi dengan Borobudur berjarak kurang lebih 22 km. Dusun Sidoharjo terletak ditengah-tengah diantara kedua kawasan itu. Ketiga kawasan itu merupakan satu kaitan yang tidak bisa terlepas begitu saja dari sejarah terbentuknya candi Borobudur.

Lereng Merapi merupakan satu kawasan tempat batuan yang melimpah ruah. Batuan yang awa mulanya berbentuk cairan lava yang panas kemudian disemburkan ke luar dari dalam gunung dan akhirnya mengalir ke bawah. Lava cair itu kemudian berubah menjadi beku.

Konon dari lereng Merapilah seluruh bahan baku pembuatan candi Borobudur itu diambil. Dusun Sidoharjo pada waktu itu merupakan desa penampungan bahan baku sekaligus merupakan tempat pemrosesan pertama dari pemotongan batu-batu yang disesuaikan menurut kebutuhan.

Pada belasan tahun sebelum kemerdekaan, di dusun Sidoharjo ada tiga orang yang terusik untuk meneruskan budaya leluhurnya. Ketiga orang tersebut adalah Salim Djajapawiro, Wirodikromo dan Mbah Mur. Mereka bukanlah pemahat-pemahat patung yang memasyarakat di daerah itu.  Tetapi hanya memahat nisan, umpak, cowek, dan muntu. Pada tahun 1930, ketiga orang tersebut pernah ikut memahat pada waktu pemugaran candi Borobudur. Dari mereka mempunyai keturunan dan yang jelas dari keturunan mereka itulah seni seni pahat batu mulai nampak dan berkembang.

Kurang lebih sekitar tahun 1960, pemahat-pemahat batu di dusun Sidoharjo tidak lagi hanya terbatas pada pembuatan bentuk-bentuk yang sudah ada sebelumnya, tetapi mulai membuat bentuk-bentuk patung. Pada waktu itu orang menyebut pekerjaan ini adalah jlagra bukan memahat.

Sumber: n/a

Peta Kabupaten Magelang

Peta Magelang

Sumber peta : disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: